MMCGumas – Kuala Kurun – Tradisi Manugal menjadi salah satu perhatian dalam Peringatan Hari Tani Nasional dan Hari Pangan Sedunia Tingkat Kabupaten Gunung Mas Tahun 2026 di Desa Tumbang Malahoi, Sabtu (24/10/2026).
Wakil Bupati Gunung Mas, Efrensia L.P. Umbing, menyampaikan bahwa tradisi Manugal bukan sekadar kegiatan bercocok tanam masyarakat Dayak Ngaju, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan lahan dan menjaga hubungan manusia dengan lingkungan.
Ia menerangkan bahwa aktivitas bercocok tanam masyarakat Dayak sejak dahulu selaras dengan upaya memelihara alam. Oleh karena itu, tradisi Manugal perlu terus dijaga dan dikembangkan melalui pengelolaan serta pemanfaatan lahan yang lebih terencana.
“Manugal ini bukan hanya berbicara budaya dan kearifan lokal Dayak Ngaju, kita ingin memperlihatkan bahwa aktivitas bercocok tanam masyarakat Dayak sejak zaman dahulu selaras dan memelihara alam lingkungan,” jelasnya
Menurutnya, tradisi Manugal juga memiliki potensi untuk mendukung kemandirian pangan, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat. Pemanfaatan lahan secara optimal dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga.

Dalam rangkaian kegiatan peringatan tersebut, Manugal dilaksanakan bersama Gerakan Tanam, Pasar Tani, dan workshop bertema “Partisipatif Peladang, Benih Lokal dan Kaleka. Petani Sebagai Kawan”.
Efrensia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas terhadap pengembangan sektor pertanian, peningkatan pendapatan petani, pelestarian kearifan lokal, serta penguatan ketahanan pangan daerah.


Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga lingkungan dan mengelola lahan secara bijaksana agar kegiatan pertanian dapat memberikan hasil optimal tanpa mengabaikan kelestarian alam.
Dalam laporan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Aryantoni, dijelaskan bahwa Manungal dilaksanakan dalam upaya mendorong pemanfaatan lahan untuk meningkatkan ketersediaan pangan keluarga sekaligus melestarikan kearifan lokal masyarakat Dayak Ngaju yang selaras dengan alam dan lingkungan.