Gunung Mas – Berdasarkan hasil Tim Panel Independen (TPI) 2021 Pengembangan inovasi Bell Box TB Berkesan Berantas dan Eliminasi Penyakit Tuberkulosis dengan Bell Box Dering Kesembuhan Kabupaten Gunung Mas (Gumas) dapat masuk dalam kategori top 99 Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) tahun 2021.

“Inovasi yang dikembangkan merupakan inovasi yang sangat penting menjadi pilar Smart Human Resources pengembangan sumber daya manusia yang sehat dan cerdas” kata Bupati Jaya Samaya Monong saat wawancarannya bersama tim penilai KIPP.

Bupati menjelaskan dampak inovasi ini yang pertama mengurangi angka putus pengobatan, yang kedua meningkatkan angka keberhasilan pengobatan, yang ke tiga menurunkan prevalensi kasus TBC, keempat efektif dan efisien waktu dalam pengobatannya.

“Berdasarkan hasil yang dilakukan Pemkab Gumas melalui Dinas Kesehatan memandang perlu untuk menerapkan pola dalam inovasi yang lebih besar kepada 17 puskesmas yang ada di Gumas,” ujarnya.

Jaya mengatakan Sosialisasi dan edukasi ke seluruh puskesmas terus dikembangkan dan Surat Keputusan tentang kewajiban pemberlakuan inovasi BELL BOX TB berkesan di setiap wilayah kerja puskesmas yang ada di Kabupaten Gunung Mas.

Dalam materinya Bupati menjelaskan, Dinas Kesehatan dengan terobosan, inovasi Bell Box TB Berkesan (Brantas Dan Eliminasi Penyakit Tuberkulosis Melalui Bell Box Dering Kesembuhan, dilakukan pada akhir tahun 2018 dilakukan pada 1 Desa sebagai pilot project dengan 2 jumlah pasien.

“Seperti kita ketahui bahwa salah satu masalah yang dihadapi Kabupaten Gunung Mas dalam bidang kesehatan jumlah penderita, Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi penyebab kematian terbesar kedua di dunia setelah Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Lebih lanjut Jaya Samaya Monong mengatakan, dalam masa pandemi penerapan inovasi BELL BOX TB berkesan harus disesuaikan dengan kondisi yang ada sebelum pandemi pengawasan fisik peran Project management office (PMO) 40% tenaga kesehatan dan 60% keluarga.

Dimasa pandemi Jaya katakan, porsi kehadiran fisik dikurangi, 20% tenaga kesehatan dan 80% keluarga. Kehadiran fisik tenaga kesehatan masih diperlukan memberikan edukasi bagi tenaga kesehatan diberikan APD jika dilakukan pengawasan kunjungan rumah.

“Saya secara pribadi sebagai Kepala Daerah bangga dengan inovasi yang dikembangkan walaupun kelihatan sederhana tetapi dampaknya terasa terbukti sudah dirasakan oleh dua pasien di Desa Rangan Hiran yang lokasinya terpencil dan jauh dari akses komunikasi,” katanya.

Adapun Tim Panel Independen (TPI) KIPP 2021 yakni Prof. Dr. JB Krsitiadi, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, Dadan S. Suharmawijaya, Sri Haruati Indah  Suksmaningsih, Haris Turino, Prof. Dr. Eko Prasojo, Erry R. Hardjapamekas, Neneng Goenadi, Nurjaman Mochtar, Tulus Abadi, Rudiarto Sumarwono.

%d blogger menyukai ini: